Lembur Pakuan, kediaman Dedi Mulyadi di Subang, terus menjadi tujuan ratusan warga dari berbagai penjuru Jawa Barat yang mengadu. Kedatangan mereka membawa beragam persoalan, mulai dari kesulitan ekonomi, kebutuhan pendidikan, masalah kesehatan, hingga permintaan untuk melunasi utang pribadi.
Meski dikenal sebagai figur yang ringan tangan, Gubernur Jawa Barat ini secara tegas menyatakan bahwa tidak semua permohonan dapat dikabulkan. Khusus untuk permintaan pembayaran utang, Dedi dengan jelas menolaknya.
“Saya mohon maaf, untuk masalah utang-piutang pribadi, kami tidak dapat memenuhi. Hal ini justru dapat menimbulkan efek negatif. Bisa-bisa nanti orang berdatangan hanya untuk antre minta dibayarin utang, dan ini akan menciptakan masalah baru,” ujarnya menegaskan.
Dedi menambahkan bahwa ia tidak akan melarang kunjungan warga ke Lembur Pakuan. Bahkan, posko pengaduan tetap disediakan untuk menampung keluh kesah masyarakat. Bantuan yang diberikan pun akan diprioritaskan berdasarkan pertimbangan kemanusiaan.
Namun, ia juga menyampaikan bahwa ke depannya, pihaknya tidak akan memaksakan diri jika sudah tidak memiliki kemampuan untuk terus membantu dalam skala besar.
“Apabila kami sudah tidak mampu lagi, kami tidak bisa memaksakan diri melayani ribuan orang, apalagi terkait urusan utang. Selama ini, untuk mereka yang datang, kami selalu berusaha memastikan mereka bisa pulang dengan selamat, termasuk menyediakan transportasi hingga tiba di rumah, baik yang dari dalam maupun luar Jawa Barat. Itu semua kami lakukan atas dasar kemanusiaan,” jelas Dedi.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dalam pelayanan. “Kami berusaha memberikan yang terbaik, tetapi semua tetap disesuaikan dengan kemampuan yang ada,” tandasnya. Sumber: TribunJabarID












